Beberapa
minggu belakangan, kami terus bergelut dengan gua vertikal dan minggu ini kami
akhirnya akan mencoba kembali gua horizontal. Gua kali ini letaknya masih di
Kecamatan Semanu, seperti tiga gua yang kami eksplorasi sebelumnya. Travelmate-ku kali ini adalah Lyan,
Nora, Rima dan Dirham. Sekitar dua jam kami melakukan perjalanan dari kompleks
perumahan dosen D11 Universitas Gadjah Mada menuju Goa Toto di Gunung Kidul.
Nora, Rima, Lyan dan aku berangkat lebih dulu, sementara Dirham akan
menyusul—mungkin karena kurang tidur semalam hehe. Jam menunjukkan pukul 08:30,
kami sampai di Gua Toto, letaknya pun tidak jauh berbeda dengan gua-gua lainnya
di Semanu yakni berada di tengah ladang. Karena tidak membawa SRT-set, saya agak
kesusahan untuk menyimpulkan logistik apa yang seharusnya di bawa dan alhasil
saya cuman membawa beberapa logistik seperti helm, handy talkie (HT),
perlengkapan kesehatan, dan dry bag.
Tak terlintas dalam benakku untuk membawa fly
sheet dan matras karena tidak terlalu
banyak logistik yang dibawa dan oleh karenanya kami mengganti dengan membuat
bivak untuk melindungi barang bawaan kami. 30 menit berselang, Dirham datang
dan membawa perlengkapan dokumentasi. Lapangan kali ini adalah try out kami yang ke-empat dengan materi
fotografi gua. Kami yang merupakan angkatan baru dari divisi caving tidak ada yang mengetahui
fotografi sebelumnya sehingga lapangan kali ini tampak abstrak dalam imajinasi
kami.
![]() |
| Dari kanan ke kiri: Lyan, Nora, Ilham dann Rima |
Tanpa basa-basi lagi, Dirham menyerahkan kamera dan alat
dokumentasi lainnya ke saya dan kami mengenakan helm tuk bersiap melakukan
ekslorasi. Dari depan gua terlihat dua lorong, lorong yang kanan tampaknya
adalah hasil longsoran dan kami menuju lorong yang satunya. Dari mulut gua
terdengar aliran air yang cukup deras, dan kami tidak mengetahui bahwa Goa Toto
juga merupakan sungai bawah tanah. Langkah pertama sudah kami tatihkan bersama
dengan bau guano mengiringi aroma petualangan. Berjalan menurun sekitar sepuluh
meter dan di hadapan kami terlihat sungai dangkal dengan airnya yang jernih.
Aku berhenti sejenak melihat ke atas untuk melihat ornamen gua tetapi sinar
dari lampu headlamp-ku rupanya
bukanlah hal yang diinginkan oleh kalong gua ini, aku langsung mengarahkan
kepala ke bawah karena tidak ingin mengganggu tidur siang penghuni gua. Sejauh
sinar headlamp, aku memandang, hanya
ada satu lorong dengan aliran sungai sebagai alasnya. Kami berjalan menyusuri
sungai, sesekali harus menyebur ke dalam air, jika tak ada batu untuk berpijak
dan kadang pula merunduk karena menyesuaikan celah yang ada. Bagi seorang caver menyentuh ornamen adalah sebuah
kesalahan dan walaupun kami bukan atau belum termasuk caver tetapi nilai itu harus kami tanamkan sebagai bagian dari
pecinta alam—gua juga kan termasuk alam. Ketika pendidikan kepecinta-alaman
atau di Mapagama sendiri disebut gladimula, kami sudah belajar beberapa teknik
bersusur gua “Jika kalian tidak bisa berdiri maka menunduklah, jika tidak bisa
menunduk maka berjongkoklah, jika tidak bisa lagi maka tengkuraplah, jangan
menyerah sebelum benar-benar tidak bisa dilewati lagi dan ingat jangan
menyentuh ornamen.” Begitulah kira-kira yang saya tangkap ketika melakukan
eksplorasi di Gua Jlambrong ketika gladimula dulu, eksplorasi ini membuatku
bernostalgia dan aku putuskan untuk menyoret wajahku dengan lumpur seperti kala
itu. Serentak teman-teman tertawa dan menanyakan kenapa aku berbuat demikian.
Singkat kata aku katakan “mengenang gladimula” dan kami semua larut dalam tawa.
![]() |
| Nora dan Lyan menjadi model saat fotografi gua. |
Kami terdiam sejemang dan bimbang ketika harus memutuskan
untuk lanjut atau tidak dan kami mengobservasi sejenak hingga pada kesimpulan
bahwa titik nol sudah diputuskan. Di depan kami bukan lagi seperti aliran
sebelumnya, sungainya sangat dalam dan bahkan aliran airnya nyaris menyentuh
atap gua-nya, Kamera dan peralatan langsung aku keluarkan dari dry bag dan sekaligus aku sebagai orang
pertama yang mencoba untuk memotret. Setelah aku disusul Nora, Lyan dan Rima.
Tak banyak yang bisa aku ceritakan karena kami hanya berujung menjadi model
atau sebagai pemegang flash. Serong
dikit menjadi kata yang sering disebut ketika HT digunakan dan mode auto adalah
mode andalan kami karena tidak mengetahui mode manual, hehe. Sekitar tiga jam
kami melakukan fotografi dan rasanya sudah ada sedikit gambaran tentang fotografi
dari yang sebelumnya nihil dan abstrak. Untuk percobaan pertama melakukan
fotografi gua, hasilnya lumayan walaupun tidak sebagus yang semestinya tetapi
untuk saya yang tidak punya dasar fotografi, saya sedikit terkesan. Kami
melangkah kembali menyusuri aliran dan celah yang kami lalui sebelumnya, ketika
sampai di mulut gua, saya terkesimah melihat cahaya setelah tiga jam dilahap
kegelapan.
![]() |
| saya ketika menjadi model saat fotografi gua. |
Berjemur dibawah matahari, evaluasi dan membersihkan
diri, begitulah sejam yang kami habiskan ketika eksplorasi. Dilanjutkan ke
rumah Pak Tambiyo untuk sekedar mampir dan mempererat silaturahmi sebelum
akhirnya pulang ke sekretariat. Perjalanan kali ini menghadirkan kesan
nostalgia yang kembali mengingatkan bahwa kenangan adalah sesuatu yang sangat
berharga, memori memang tak se-gamblang dokumentasi tetapi ia juga selalu bisa
hadirkan rindu untuk kembali. Singkat cerita, cerita ini cukup sampai di sini
dan nanti petualangan berikutnya.
[ilhamjourneys]



Komentar
Posting Komentar