Sejuknya Wisata Alam Muncar di Taman Nasional Gunung Merapi.

Ada sekitar 54 taman nasional yang ada di Indonesia dan pada minggu kali ini, aku berencana ke Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kota Yogyakarta. Taman Nasional Gunung Merapi mencakup empat kabupaten dan dua provinsi yakni Kabupaten Klaten, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali di Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman di DIY. Tiap minggu, kami selalu mengagendakan ke tempat wisata yang kami samarkan dengan kuliah lapangan, di dampingi oleh Dosen Geografi Pariwisata, Pak Pitaya. Dua kuliah lapangan kemarin ke Candi Plaosan dan Museum Dirgantara Mandala dan minggu ini kami memilih wisata alam dan diputuskanlah Taman Nasional Gunung Merapi.

Air Terjun Tlogo Muncar

Sama seperti minggu lalu, aku berangkat bersama Bayu lagi menuju Kaliurang salah satu jalur masuk taman nasional. TNGM juga habitat bagi  saninten (Castanopsis argentea), anggrek (Vanda tricolor), dan elang jawa (Spizaetus bartelsi). Taman nasional ini juga merupakan tempat hidup macan tutul (Panthera pardus)--ini menurut yang saya baca di wikipedia, hehe. Kami menentukan start point di Tlogo Putri dan sebelum memasuki objek wisata kita akan disambut dengan patung selamat datang yakni Patung Elang Jawa. Jam menunjukkan pukul 9 ketika kami sampai di Tlogo Putri dan cukup banyak orang yang berkunjung ke tempat ini. Parkiran cukup luas, tersedia musala dan toilet serta terdapat banyak kios mulai dari kios kuliner hingga kios cenderamata. Di parkiran terdapat banyak monyet yang berkeliaran dan pengunjung memberi makan monyet dengan kacang. Menuju Tlogo Putri aksesnya lumayan mudah dari Kota Yogyakarta bisa langsung menuju Jalan Kaliurang dan hanya mengikuti arah jalan itu hingga sampai di Kaliurang, jalannya mulus beraspal bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, roda empat dan kendaraan darat lainnya atau dengan sensasi petualangan dapat mencoba mobil jip yang banyak ditawarkan di dekat lokasi. Selain Tlogo Putri, kita juga bisa berkunjung ke destinasi lainnya seperti Museum Gunung Merapi, Museum Ullen Sentalu, Gua Jepang, Kalikuning dan Turgo serta tersedia banyak akomodasi mulai dari vila, wisma, puri hingga hotel. Tempatnya sangat bersih dan sangat jarang ada sampah yang bertebaran.

monyet yang berkeliaran disekitaran parkiran


Jam menunjukkan pukul 10, kami memutuskan untuk mengunjungi Wisata Alam Muncar yang letaknya tak jauh dari Tlogo Putri, udara makin sejuk dan asri juga suasana yang tenang saat kami berjalan menuju Air Terjun Tlogo Muncar. Setibanya di Air Terjun ternyata debit air sedikit tetapi kami masih beruntung karena masih bisa melihat air di air terjun dikarenakan saat kemarau air terjun ini berpotensi kering. Pada tahun 2006, terjadi gempa bumi di Yogyakarta dan dampaknya juga berimbas pada tempat ini, akibat dari gempa itu terjadi pergeseran bebatuan tebing dan membentuk celah yang meyebabkan pengalihan aliran air sehingga pancaran air terjun mengecil. Banyak cerita dari air terjun ini bahkan sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono ke-VII, pada jamannya Air Terjun Tlogo Muncar merupakan tempat pemandian para bangsawan. Air Terjun Tlogo Muncar konon katanya memiliki barokah sehingga airnya sering digunakan untuk acara ritual seperti bertapa dan memandikan pusaka kerajaan. Pada tahun 2010, wilayah sekitar air terjun habis terbakar akibat terkena Erupsi Merapi, sehingga tidak ada lagi tumbuhan yang berfungsi sebagai pengikat air dan banyaknya material erupsi yang menutupi wilayah tersebut menyebabkan aliran air terjun menjadi sangatlah kecil. 

pintu masuk Wisata Alam Muncar, jam kunjungan wisatawan jam 8 hingga jam 4 sore.


Selain Air Terjun Tlogo Muncar di dalam kompleks Wisata Alam Muncar juga terdapat wisata Bukit Pronojiwo yang dapat melihat gagahnya Puncak Merapi. Di dalam kompleks wisata banyak terdapat taman bermain anak, patung monyet dan kolam air mancur. Monyet yang banyak berkeliaran di tempat ini adalah jenis Monyet Ekor Panjang, monyet jenis ini banyak ditemukan di seluruh Indonesia tetapi ada yang membedakan antara monyet di TNGM dengan monyet diluar yakni pada perilakunya, monyet disini cenderung lebih jinak dan apabila diberi makan tidak berebut bahkan bisa makan bareng dengan monyet saking jinaknya, sewaktu kami memasuki kompleks wisata alam belum kelihatan monyet tetapi menjelang tengah hari antara jam 10-12, monyet akan turun dan berkeliaran disekitaran air terjun dan momen ini digunakan oleh para pengunjung untuk berswafoto dengan monyet dan memberi makan. Mitos tentang air terjun ini juga menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, mitosnya jika membasuh muka dengan air di air terjun akan tampak awet muda dan tempat ini masih agak sakral bisa dilihat ada yang menaruh koin dan uang kertas di patung monyet--entah maksudnya apa. 

Review:
Tempatnya cukup bersih bebas sampah plastik, tetapi di dekat kios ada tempat pembuangan yang cukup besar, disitu banyak sampah berserakan disekelilingnya sehingga menyebabkan sampah jatuh ke aliran sungai. 
Terlalu banyak tiket, mulai dari tiket masuk hingga parkir.
Banyak fasilitas publik seperti tempat duduk, tempat sampah, musala, toilet maupun kios serta didukung oleh akomodasi dan infrastruktur yang baik.
Terdapat cukup informasi terkait wisata terkait.

Saran: 
Lebih diperhatikan sampah yang jatuh ke sungai karena akan dapat mencemari sungai.
Tiket lebih baik dijadikan satu paket.

Estimasi bujet:
Tiket masuk Kaliurang Dewasa: Rp3.000
Tiket masuk kendaraan pos Kaliurang (bervariasi): Rp2.000 (motor)
Tiket parkir: Rp3.000 (motor)
Tiket masuk Wisata Alam Muncar: Rp6.000

Dokumentasi:
penambahan atraksi di Wisata Alam Muncar

tempat sampah

informasi peringatan

daftar harga di salah satu kios kuliner

papan informasi perilaku monyet

papan informasi daerah wisata

salah satu kios jajanan

memberi makan monyet

papan informasi 

jalan Kaliurang menuju TNGM

tempat pembuangan sampah di dekat sungai






Komentar