Sebelumnya saya berterima kasih kepada Pak Pitaya selaku Dosen kami yang mengampu mata kuliah Geografi Pariwisata yang telah menuntun kami ke Museum Dirgantara Mandala dalam rangka kuliah lapangan. Sebelum berkunjung ke museum ini dalam pikiranku sudah terbayang pesawat atau militer, dan memikirkan tentang militer selalu negatif dalam pikiranku karena aku terdidik dari lingkungan yang anti-aparat dan dalam buku sejarahkupun melihat dari sudut pandang satu arah dengan arah yang sama.
![]() |
| lukisan pesawat TU-16 di dalam museum. |
Hari ini, aku berangkat bersama Bayu lagi pada agenda kuliah lapangan minggu ini dan dengan berbarengan dengan beberapa bus rombongan kami melewati gerbang masuk. Di parkiran lebih didominasi oleh bus dibanding kendaraan lain dan pada kunjungan kali ini saya hanya membayar tiket masuk museum. Harga tiket masuk terbagi menjadi dua, perorangan atau rombongan, jika perorangan akan dikenakan tarif Rp3.000,-perorangnya dan apabila rombongan minimal 30 orang cukup membayar Rp2.000,-perorangnya sedangkan akses menuju museum ini tidak terlalu sulit, bisa memakai transportasi publik atau pribadi, transportasi pubik bisa menggunakan Bus Trans Jogja dengan nomor rute 1A dan 1B tetapi jarak halte bus dengan museum lumayan agak jauh 400 meter untuk yang backpacker-an atau yang meminimalkan bujet saya merekomendasikan menggunakan Bus Trans Jogja dengan harga tiket Rp3.500,-persekali jalannya atau menggunakan ojek online.
![]() |
| salah satu patung yang berada di depan pintu masuk museum. |
Sejam kemudian. kami dituntun oleh Pak Pitaya menuju salah satu pesawat yang berada halaman museum dan memberikan kuliah yang berlangsung kurang lebih satu jam dan dari kuliah ini, kami merenung tentang kebesaran dan kejayaan Indonesia khususnya TNI diawal kemerdekaan atau tepatnya di tahun 1960-an. Pada tahun tersebut, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di bumi bagian selatan. Di bawah pesawat bomber asal Uni Soviet, Tupolev TU-16, pesawat kebanggaan Indonesia yang merupakan hadiah dari hubungan akrab antara Indonesia dengan Uni Soviet kala itu, dan pada saat itu pesawat ini adalah pesawat yang paling ditakuti oleh negara-negara barat lantaran dapat membawa rudal dan bom yang jarak jelajah lumayan jauh dan pada saat itu yang memiliki pesawat ini hanya Indonesia, Uni Soviet, Amerika dan Inggris. Betapa, kagumnya kami ketika mendengar itu Indonesia disejajarkan dengan negara-negara adidaya penguasa. Pada tahun 1963, Indonesia mengirim tiga pesawat TU-16 ke Malaysia dan Australia. Di Malaysia dikirimkan selebaran pamflet propaganda dan di Australia dijatuhkan kaleng makanan yang berparasut dan bertuliskan made in Indonesia, tujuannya memberikan efek psikologis kepada Australia jika berani membantu Malaysia saat itu. Pemerintah Australia kemudian panik lantaran pesawat berjenis TU-16 yang merupakan bomber telah memasuki wilayahnya tanpa terdeteksi radar. Mendengar penjelasan itu dan melihat realita sekarang, betapa kami merasa sangat terpuruk akan perkembangan negara ini. Pak Pitaya kemudian kembali menjelaskan "Berbicara pariwisata adalah berbicara sesuatu yang kompleks dan tentunya dipengaruhi oleh politik dan militer dan apabila kamu melihat negara yang pariwisatanya maju pasti militernya juga maju. "Kami lantas terdiam dan merenung dari kunjungan museum ini dan tak terasa langitpun mendung kemudian gerimis. Kami lantas berlari menuju museum melihat koleksi pesawat, diorama dan koleksi-koleksi TNI-AU lainnya.
foto pimpinan dan kepala staf TNI di lobi atau ruang pertama museum.
![]() |
| salah satu spot foto yang digemari wisatawan ketika berkunjung ke museum. |
Museum ini adalah salah satu museum atau satu-satunya museum yang tidak boleh dimasuki oleh wisatawan asing dan terdengar sangat eksklusif bagi kami. Pengunjung terbanyak adalah rombongan sehingga museum ini terkesan Organized Mass Tourist walaupun konsepnya Edu-Tourism ataupun Heritage Tourism, rombongan didominasi dari pelajar Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) serta adapula rombongan lain misal kunjungan dari luar kota atau study tour.
![]() |
| kios-kios souvenir yang berada di dekat halaman parkir. |
![]() |
| penjual jajanan di samping museum. |
![]() |
| Tempat sampah yang kelebihan kapasitas |
Keunggulan museum ini memiliki banyak koleksi pesawat, jet dan koleksi lain terkait angkatan udara dan koleksi ini merupakan yang asli serta pengunjung eksklusif karena hanya wisatawan lokal, terdapat banyak penjual souvenir dan jajanan di dekat halaman museum. Sedangkan kekurangannya hampir sama disemua destinasi maupun museum yang ada di Indonesia terkait sampah dan informasi. Toilet dan tempat sampah berbanding terbalik dengan total kunjungan wisatawan dan wisatawan yang kurang memperhatikan sampahnya---mungkin karena tempat sampah sudah penuh. Dan terkait informasi, sangat disayangkan pesawat TU-16 yang merupakan pesawat dan koleksi jet dan rudal yang begitu hebat tidak disertakan informasi begitu jelas dan itu membuat pengunjung tidak mengetahui bahwa koleksi tersebut merupakan suatu yang patut dibanggakan.
Perjalanan kali ini, memberikan arti yang penting dan perenungan akan masa lalu hingga kami yang nantinya memegang kendali negara ini menuju kejayaannya kembali. Motivasi yang seperti ini yang kami butuhkan agar tak larut dalam nyamannya moderenitas yang memerosot generasi negara ini. Semoga bermanfaat serta memotivasi untuk kembali mencapai puncak kejayaan dan nanti cerita perjalananku selanjunya.







Komentar
Posting Komentar