Pukul delapan pagi, Bayu dan aku tiba di Candi Plaosan, dengan disuguhi panorama sawah nan hijau selama perjalanannya dengan latar puncak Gunung Merapi yang mempesona dan suasana khas pedesaan yang asri. Sungguh, tempat yang sangat direkomendasikan bagi kalian yang mencari ketenangan setelah seminggu lelah beraktivitas. Letak Candi Plaosan tak jauh dari komplek Candi Prambanan hanya berkisar satu kilometer ke arah Timur. Agenda hari ini, kuliah lapangan di Candi Plaosan sebagai bagian dari mata kuliah Geografi Pariwisata.
![]() |
| Tiga turis dari Singapura, salah satunya sedang berfoto di atas bagian pagar candi. |
Dengan matahari menyilau, aku memandang kompleks candi sembari berkata "Ini pasti candi Hindu"
itulah kalimat pertama yang aku katakan ketika tiba di Candi Plaosan, saat melihat motif dan arca disekelilingnya, tetapi di selatan dan di pucuk candi terdapat stupa yang biasanya menandakan candi Budha. Papan informasi mengatakan candi ini bercorak Budha namun ada perpaduan agama Hindu karena hubungan asrama antara Pramodhawardhani yang beragama Budha dan sang kekasih Rakai Pikatan yang beragama Hindu, yang oleh dosenku mengatakan tempat ini sebagai monumen cinta. Arsitektur candi menandakan kekayaan masa lalu masyarakat Jawa, tersebar dipenjuru pulau ini. Betapa majunya peradaban, hingga menghasil mahakarya seindah ini.
Kompleks candi terbagi menjadi dua bagian, yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Masing-masing candi memiliki halaman luas dengan rumput hijau, memiliki relief di dinding candi dengan arca yang masih banyak dibanding dengan Candi Ijo. Dibagian Utara candi ada tumpukan artefak candi yang masih belum dipugar dan salah satunya ditumbuhi pohon yang sudah lumayan besar. Disisi Timur ada barisan kurang lebih delapan candi kecil, disisi Barat juga ada beberapa candi kecil dan dua buah arca dan dibagian Selatan ada barisan candi yang belum dipugar dan beberapa baris stupa. Di dalam candi utama, terdapat tiga buah ruangan dan masing-masing ruangan memiliki dua buah arca dewa yang sama, tetapi saya tidak mengetahui nama dewa tersebut--mungkin Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
![]() |
| Foto tampak samping candi utama. |
Belum selang sejam aku berada disini, kompleks candi sudah menjadi lautan manusia. Rombongan tur menjajali tiap artefak, anak-balita lalu-lalang dengan riangnya, sedang orang tuanya berswofoto berlatar candi, dan tak ketinggalan pula mas tukang foto yang lalu-lalang menawari pengunjung untuk dipotret. Candi mewadahi kegembiraan setiap orang di dalamnya, tidak mengenal usia maupun tolak ukur lain.
![]() |
| Saya pusing, apakah ini dilarang atau tidak? |
Melamun aku menanyakan pada batin "Apa yang orang cari di candi dan untuk apa kesini? "
Jika mereka kesini belajar, kenapa tidak engkau bertanya mengapa papan informasi memuat informasi yang begitu minim.
Jika engkau kesini menenangkan diri, kenapa mesti duduk di candi, dan kenapa pula datang kesini yang notabene adalah keramaian.
Jika engkau kesini untuk mometret dengan kamera di kalung lehermu, kenapa mesti menaiki candi, sedang papan peringatan sudah terpampang jelas.
Menurut pandanganku, candi bukan lagi tempat sakral seperti dahulu kala, ia menjelma menjadi taman bermain primitif kaum hedonis, dan wadah eksistensi sebagian kaum. Papan peringatan terpampang jelas--jelas hanya formalitas, selama sudah bayar, taman bermain berbuka luas, bebas sampai puas.
![]() |
| Candi utama. |
Saya tidak terlalu mengerti tentang ilmu-ilmu candi, tetapi setiap kunjungannya memiliki arti yang mendalam bagi saya, karena daerah asal saya di Sulawesi tidak ada candi. Tidak ada candi, bukanlah alasan ketidakmajuan disana hanya saja perbedaan budaya yang begitu berbeda. Candi dibangun dari batuan vulkanik dari gunung berapi yang tersebar banyak di penjuru Jawa, berbeda dengan Sulawesi yang tidak memiliki gunung berapi, disamping itu, umumnya di Sulawesi lebih memilih material bangunan dari kayu dibanding batu atau jenis bahan yang lain.
![]() |
| Tampak candi utama, jika dipandang dari sisi utara. |
Dibanding kompleks candi yang selama ini saya kunjungi, candi ini lebih tertata dan tidak ada sampah yang bertebaran, rumputnya bagus dan hijau yang membuat latar di dalamnya kelihatan lebih menarik. Saran saya hanya dibagian papan informasi dan papan peringatan yang saya lihat hanya pelengkap formalitas, sebaiknya ada petugas yang keliling menegur pengunjung yang nekat memanjat candi yang hanya untuk berswafoto dan untuk papan informasi ada baiknya diperinci lagi penjelasannya dan lebih baik lagi jika ada satu bangunan khusus seperti di Candi Sambisari yang menyimpan informasi terkait candi.
Cukup sekian, cerita perjalanan saya ke Candi Plaosan, dan nantikan cerita selanjutnya karena akan selalu ada petualangan berikutnya.





Komentar
Posting Komentar