Gerimis masih menjadi wacana ketika jam menunjukkan pukul 8--rencana waktu keberangkatan kami ke Jembatan Babarsari. Setengah jam berlalu, gerimis berganti mendung dan tanpa menunggu lama lagi langsung berangkat ke lokasi. Setibanya di lokasi, kami berpapasan dengan UKM Pramuka UIN Sunan Kalijaga, bertukar sapa dan kata sembari menunggu kawannya yang juga menuju ke sini, setelah itu matahari mulai menampakkan sinarnya, di atas jembatan terlihat dari bawah siluet ikan mas dari balik air kolam pemancingan dan juga di belakang kami fanorama Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang mempesona. Jembatan Babarsari memiliki tinggi kurang lebih sepuluh meter dan disampingnya ada riol untuk saluran air dan di riol inilah kita memasang perlengkapan SRT bersama dengan komunitas lainnya, Mas Dirham langsung memasang tali dengan beragam variasi lintasan, sementara Lyan, Rima, Nora dan aku merangkai set dan begitulah kami memulai sarapan kami di hari nyepi ini.
Beberapa saat berlalu disela-sela kami menyiapkan alat, Mas Kresna datang menyusul, bercerita sedikit, pemanasan, pasang set, breefing dan kemudian memberikan arahan dan gambaran melintasi lintasan. Dari atas riol kami mengamati Mas Kresna dengan seksama dan bersiap karena selanjutnya adalah kami. Lyan langsung memasang set dan bersiap sebagai yang pertama, kemudian dilanjutkan aku, Rima dan Nora. Sekitar enam bulan yang lalu, kami pernah latihan di tempat ini dalam rangka pendidikan gladimula, namun lintasannya masih agak mudah karena hanya naik-turun di lintasan lurus. Pada latihan kali ini, tampak ada rasa nostalgia ketika tiba di tempat ini.
Ketika Lyan mulai mencoba lintasan, aku langsung bergegas dan memasang set kemudian beraksi, namun saat memasang set, aku melupakan beberapa hal yang sekiranya dapat berakibat fatal. Diantara teman-teman yang lain, aku yang paling sering mengulangi kesalahan karena mudah panik dan alhasil grusa-grusu dan sulit mendengarkan arahan. Waktu kecil dulu, aku pernah bermain flying fox di dekat rumah, tapi flying fox itu buatan atau kreasi teman-temanku saat itu, kami mengambil tali jemuran, kemudian memanjat pohon kelapa dan menghubungkannya ditiang rumah, cara bermainnya kami memanjat kelapa lagi sembari membawa kain tebal yang akan kami pakai untuk melintasi tali jemuran tersebut--sungguh indah masa sebelum kita mengenal gawai. Setelah beberapa kali mencoba, aku melakukan kesalahan fatal yakni memagang dua tangan disisi yang sama, alhasil aku jatuh dari ketinggian kurang lebih lima meter--tidak ada luka namun ada semacam trauma dengan ketinggian, entah apa dalam pikiranku mengambil divisi susur gua yang memiliki identik dengan ketinggian. Sudahlah, mari berproses.
Karena baru satu-dua kali mencoba, kami masih mengalami beberapa kendala dan kami meluapkan semuanya ketika evaluasi saat makan siang. Sebelum makan siang, beberapa dari kami yang sudah selesai dan beristirahat membagi tugas untuk merapikan dan mengemas alat dan juga membeli makan siang. Setelah evaluasi dan merenungi kesalahan dan kendala, kami bergegas kembali ke markas Mapagama di D11 (rumah surga katanya). Hari Nyepi di Babarsari menjadi salah satu kisah petualangan kami, dan selalu ada petualangan selanjutnya.




Komentar
Posting Komentar